Sekolah Pensil Tumpul
Ku kayuh kencang sepeda
tua ku hari ini. Satu dua tiga ratusan kayuhan. Pagi-pagi buta saat matahari
belum lagi tersenyum diatas langit, semangat ku sudah membakar menyinar secerah
mentari pagi. Setiap kayuhan sepeda ini seperti energi baru, nafas baru, dan
cerita baru, bahwa aku akan memulai hari dan hidup baru, ditempat yang baru. Sepanjang
perjalanan dalam detak kayuhan, aku mengingat memori lama, entah apa yang
membuat ku tiba-tiba berpikir hidupku dimasa yang lalu. Jelas teringat lima
bulan lalu, saat aku baru saja selesai menyelesaikan amanah kuliah dikampus,
saat para wisudawan terbaik itu dipanggil satu persatu. Maju angkuh dengan
toganya berjalan tegak meanantang seolah berkata hari ini kami adalah raja dan
ratu. Ya, hari wisuda memang sangat mempesona. Tak ada satupun dari kami yang
tampak berkeluh susah, atau bersedih, atau sikap apapun yang menunjukkan
ketidaksenangan pada hari momental tersebut, yang ada hanyalah senyum, gembira,
tawa, dan bangga. Perjuangan kuliah empat tahun dikampus ini terbayar sudah,
lewat acara wisuda yang mengharu. Salah satu dari acara berdurasi dua jam yang
paling membahagiakan. Aku lulus dengan predikat sangat memuaskan.
Ciiiiiiit, sontak ku
rem sepeda mendadak. Suaranya yang melengking memecah lamunan nostalgia. Kaget!
rasanya jantung ini hampir copot. “Elaaah, bocah, kalau jalan jangan ditengah.
Kan jalan lebar to. Kalau tadi nabrak gimana?” Aku bertanya dengan nada tinggi,
ya kurang pantas memang, mengingat dihadapanku hanya seorang bocah cilik. Bocah
cilik botak berseragam lusuh. setengah berteriak bocah itu menjawab: Gelo sia!
Ada anak kecil didepan malah maju terus. Kebanyakan melamun sih! Dasar aneh!.
Bagiku itu kalimat yang sangat amat kasar, apalagi dikatakan oleh anak
seusianya. Aku tertegun sejenak, memandanginya yang seolah menantangku dengan
tatapan tajam dan marah . dalam hati aku menerka, apakah orangtuanya tak pernah
mengajarinya sopan santun dan tatakrama. Entah lah, aku tak mau berprasangka.
Tak mau kurusak hari ini dengan memikirkan bocah kecil aneh yang tak punya sopan
santun. Ku kayuh lagi sepedanya, tak kuhiraukan dia…
Alhamdulillah, akhirnya
sampai juga diistana baruku.. Perjalanan panjang tiga kilometer ini sungguh sangat
menyenangkan, ya walaupun insiden kecil tadi telah menyita sedikit mood baikku.
“Naah, kita mulai dari sini ya Nak, kamu akan mulai mengajar dikelas 3 dan 4…
Ini kelasnya (sambil menunuk kearah dua kelas yang berdempetan) Semoga kamu
betah ya, modal utama guru adalah kesabaran dan keikhlasan. Setiap ilmu yang
engkau berikan nantinya semoga jadi ladang amal Nak, jadi bersemangatlah ya!”
Petuah singkat Pak Wasil, Kepala Sekolah SD ini cukup rasanya menjadi sebuah
kultum pagi yang menghidupkan lagi ghirah jiwa anak muda. “Siap Pak! Mohon
bantuannya”. Jawabku singkat. Pak Wasil, sosok sederhana yang menginspirasi.
Pertama kali bertemu beliau telah membuatku merasa sangat nyaman. Cara beliau memberi
nasihat tak menggurui, memberi semangat seolah yang lain adalah anak atau
saudaranya sendiri, itulah Pak Wasil. Senyumnya sangat ramah. Setiap kerutan
diwajahnya adalah guratan kerja keras ikhlas. Selama delapan belas tahun
mengabdikan diri, bisa dibayangkan rasa cintanya terhadap pekerjaan dan semangatnya
membangun pendidikan. Sungguh sosok pengajar sejati.
Teng, teng, teng!
Lonceng berbunyi, anak-anak berlarian masuk ke kelas. Tepat berada didepan para
murid. Aku gemetar. Gerogi? Aku menantang diriku untuk tidak merasakannya. Aku
seorang lulusan terbaik di universitas pendidikan terbaik di Indonesia. Pengalaman sudah cukup mumpuni. Mengajar
merupakan makanan ku sehari-hari. Kenapa aku harus gerogi? Aku berpikir mungkin
karena ini adalah hari pertama ku menyandang predikat asli guru. Walaupun hanya
menjadi seorang guru honorer tapi sungguh ini merupakan kesempatan emas untuk
mengaplikasikan ilmu yang selama ini telah kudapat. Bismillah, aku memulainya
dengan perkenalan diri…
“Assalamualaikum
anak-anak. Nama Bapak, atau bisa juga dipanggil kakak adalah Kak Bagus. Bapak
adalah guru baru kalian disini. Salam kenal ya. Mudah-mudahan bapak bisa
mengajar dengan sebaik mungkin. Insyaallah kalau ada yang mau ditanyakan nanti
setelah jam pelajaran usai. Bapak juga ingin mengenal kalian satu persatu”
Kataku bersemangat. Keadaaan kelas ini cukup sempit untuk menampung sekitar 40-an
murid kelas 4 SD. Rasa-ranya setiap dari kami harus berebut oksigen untuk dapat
bernapas dengan baik. Ya sedikit lebay memang, tapi aku yang belum terbiasa
mungkin harus dimaklumi. Kelas yang sempit membuat anak-anak harus ikhlas dan
pasrah berbagi kursi dan meja. Sikut-sikut mereka saling bersentuhan setiap
kali akan menulis pelajaran. Miris memang, saat sekolah-sekolah dikota besar
berlomba dibangun bermegah-megah dengan segala fasilitas mewah, sekolah-sekolah
desa hanya bisa menunggu antrian untuk dibangun, itupun kalau pemerintah
daerahnya peka dan peduli. Contoh nyata seperti sekolah ini, SD Miyangan Sore.
SD dengan 6 kelas. Masing-masing kelas sempit menampung sekitar 40-an siswa
sedangkan ukuran kelas sungguh bukan ukuran yang sesuai untuk menampung murid
sebanyak itu.
Dua jam pelajaran
berlalu, seorang anak nyelenong masuk kedalam kelas. “Apa-apaan anak ini? Telat
dua jam pelajaran tapi nyelenong aja masuk kekelas, tanpa permisi, tanpa
konfirmasi, langsung duduk seolah tak ada hukum disekolah ini, seolah tak
terjadi kesalahan apapun”. Debatku dalam hati. Belum sempat aku menelaah
kelakuan murid itu, ternyata ada lima murid lainnya masuk kekelas tanpa izin,
lagi-lagi seperti sekolah ini adalah milik mereka. Jujur aku marah, aku panggil
semuanya untuk mengkonfirmasi apa yang terjadi. “Yang terlambat, yang baru saja
masuk ke dalam kelas, silahkan kedepan, Bapak ingin tau alasan keterlambatan
kalian. Mereka maju seketika. Luar biasanya, diantara mereka terdapat anak yang
tadi pagi berkata kasar terhadapku. Aku semakin marah. Bapak, maaf kami
terlambat, kami kira bapak adalah Pak Nasir. Guru yang biasa mengajar kelas
ini. Jadi seperti ini Pak, kami sudah izin terlambat setiap hari Pak! Pak Nasir
sudah memberikan izin ke kami untuk datang terlambat setiap hari kecuali dihari
Jum’at”. Jawab seorang dari mereka, polos. Aku terheran dan bertanya-tanya, apa
alasannya seorang guru mempersilahkan muridnya datang terlambat dan diberi kan
izin untuk telat setiap hari, sekolah aneh macam apa ini.
Jam kelas berakhir, mengakhiri
pertemuan hari pertama ini dengan beribu pertanyaan karena penasaran.
Selayaknya aku telah mendapat penjelasan dari enam anak tadi, tapi tidak cukup
rasanya jawaban mereka. Aku bergegas keruang guru, mencari bayang-bayang sosok
kurus Pak Nasir. Diskusi siang ini sungguh aneh tapi nyata. Alasan syar’i yang
membuat ku mungkin akan berbuat hal yang sama, mengizinkan mereka berenam untuk
hadir telat setiap hari. Pak Nasir mengajakku untuk belajar sepotong kehidupan
manusia. Belajar dari para murid kelas ku, bahkan dari hampir semua murid di SD
ini. Sample awal hari ini, beliau menyuruhku belajar dari lima siswa yang
terlambat itu, Dimas, Putra, Jaja, Nanda, Aisyah, dan satu anak lain yang
membuat ku tertarik untuk berobservasi, namanya Darma, bocah cilik yang
menjengkelkan.
“Naaah, bapak Cuma bisa
nganter sampai sini, Dek Bagus silahkan berilaturahim ya. Semoga dapat banyak
petuah hidup. Assalamualaikum”. Pak Nasir pergi dengan motor bututnya.
Menghilang diantara gang-gang sempit disela-sela rumah kecil warga desa.
Alhamdulillah dapat tumpangan dari Pak Nasir untuk sekalian menuntun jalanku
menuju rumah salah seorang murid ku, Darma..
“Assalamualaikum Pak
Bu. Assalamualaikum”. Salam ramah menyahut dari dalam rumah yang sangat
sederhana itu. “Waalaikumusslam (sambil membuka pintu), ya Mas, punteun dengan
siapa ya?” Seorang sosok wanita tua keluar dari dalam rumah. Sambil tersenyum
kata-kata tersusun dari mulutku. “Punteun juga ibu, nama saya Bagus. Guru baru
Darma disekolah, niatannya ingin bersilaturahim bu”. Dengan sangat lembut,
sosok wanita itu menjawab, “ oh iya Pak Guru, boleh silahkan., saya Ibunya
Darma. Silahkan masuk. tapi ya seperti ini, keadaan rumahnya jelek, silahkan
pak duduk disini (mempersilahkan duduk disalah satu kursi yang tampak paling
baik kondisinya disbanding yang lain). Saya ambil minum dulu ya dibelakang
(berlalu menuju arah dapur)”. Jelas aku dapat meilhat seiisi rumah. Ukurannya
tidak besar, bahkan terbilang sempit. Kira-kira berukuran 3x6 meter persegi
tanpa ada pembatas yang jelas antar ruang, kalaupun ada hanya lah kain yang
diikat diantara tembok sebagai hijab pembatas. Di dinding-dinding apa yang engkau
harapkan, sebuah kaligrafi, atau lukisan? Tidak! Tidak ada sama sekali. Yang
ada hanyalah kertas-kertas coretan nilai ulangan. Aku memandanginya sejenak.
Sejenak sosok Ibu
Dharma telah berada dihadapanku. Ia datang sambil menyuguhkan secangkir air
putih diatas meja. Mengawali pembicaraan, ia seperti tau tadi aku memandangi
kertas-kertas didinding itu. Kemudian ia berkata, “itu adalah nilai-nilai
ulangan Darma. Setiap kali nilainya berada dibawah 90, ia akan menempelkannya
dan mencoret nilainya menjadi 100. Setiap kertas akan diberinya tulisan, kalau
mau sukses nilai harus 100. Belajar keras lagi buat Ibu! Ya begitulah pak, anak
saya. Dia memang sedikit aneh (sambil tertawa kecil)”. Aku menyimak setiap kata
yang keluar darinya. Kupandangi lagi kertas-kertas itu, kudapati bahwa tak ada
satupun ulangannya bernilai dibawah 90. Wah, sungguh anak yang pintar. Aku pun
melanjutkan pembicaraan, “oh iya Bu, luar biasa. Anak yang pintar. Darma gimana
belajarnya Bu?” Bersemangat ia menjawab, “Darma memang anak yang pintar. Dia
keturunan almarhum bapaknya. Bapaknya seorang dokter dulu, mengabdikan diri
untuk kampung ini. Tapi takdir terkadang memang kejam, disaat ia harus bersusah
menolong warga desa, ia sendiri jarang beristirahat hingga terkena penyakit
kanker. Harta ludes untuk biaya pengobatan. Tapi hamdallah warga sini melihat
ikhlasnya bapak dulu bekerja, saya dibantu dengan sepetak rumah ini. Naah,
pintarnya mah tidak mungkin dari saya. Kalau saya mah hanya lulusan SMP (sambil
tertawa kecil). Tapi bapaknya kelepek-kelepek sama saya karena saya penghafal
Al-Qur’an 30 Juz. Alhamdulillah (tersenyum). Setiap sore Darma belajar dengan
giat disurau sana. Selain itu dia juga giat menghafal Al-Qur-an. Dia bilang,
mau buatkan mahkota buat saya dan bapaknya nanti saat di akhirat. Polos banget
ya?. Masih seusia itu tapi sudah prihatin sama kondisi orang tua. Alhamdulillah
gusti. Saya bangga sama dia, bintang kecil hatiku”.
Puas bercerita, rasanya
ingin sekali aku bertemu dengan Darma. Ibu Darma kemudian menunjukkan ku surau
tempat biasa ia belajar. Dari balik jendela tak bertirai aku melihat ia sedang
murajaah surah an-Nissa. Bacaannya bagus, hafalannya lancar. Tidak menyangka
anak bandel yang tadi pagi kusaksikan seolah berubah jadi malaikat kecil tak
berdosa. Aku masuk kedalam surau, dia tak memperdulikan. Acuh. “Assalamualaikum
Darma, ini Pak Bagus”. Sontak ia merapikan sarung kucelnya yang dipakainya tak
beraturan. Kemudian menegakkan duduknya sambil berkata, “iya Pak. Punteun. Saya
mau minta maaf tentang tadi pagi. Saya kira bapak bukan guru disekolah. Kalau
saya tau pastilah saya tidak berbuat hal seperti itu (ngeles)”. “Iya tidak apa
kok. Kamu apa kabarnya? Naaah lain kali harus lebih sopan ya. Supaya bapak gak
marah lagi. (sambil tertawa kecil). Kok belajarnya disini?” Darma menjawab
pelan, “iya Pak. Biar tenang dan gak ganggu Ibu. Soalnya kalau belajar suka
ngomong-ngomong sendiri. Sekalian juga Pak, hari ini murabbi Darma, Ustads
Shaleh, akan datang buat ngajar. Nanti anak-anak yang lain juga bakalan pada
datang. Kalau bapak mau lihat, paling satu jam lagi udah pada ngumpul”. Ajaknya
bersemangat
Subhanallah, satu hal
baru yang aku pelajari. Sungguh malu rasanya ketika akupun harus mengambil
hikmah dari seorang bacah yang tadi pagi kugerutui. Seorang Darma, anak kelas 4
SD yang sudah hafal 17 Juz. Yang sebelum bersekolah menyempatkan ke rumah Bu
Haji Shaleh untuk mengambil kue dan menjajakannya sepanjang perjalanan menuju
kelas. Banyak sekali bawaannya. Ia tau kondisi ibunya yang mulai renta, bahkan
belakangan ia tau Ibunya juga terserang penyakit yang ia tak tau apa, tapi yang
pasti membuat Ibunya sering pusing dan harus sering pula minum obat. Serorang
anak yang berpikir tak ada jaminan baginya untuk membahagiakan ibunya dimasa
tua, ia takut sekali saat nanti, malaikat telah mencabut nyawa ibunya, percis
seperti sosok bapaknya, yang ia sama sekali tak sempat melukis senyum di wajah
bapaknya yang menua. Diam-diam ia berjualan kue sebelum sekolah. Terkadang ia
sekaligus mengumpulkan botol-botol bekas untuk dijual ke agen loak. Keuntungan
seribu dua ribu selalu ia tabung untuk membantu membeli obat sang ibu. Sang ibu
khawatir jika Darma terus-terusan berjualan, sekolahnya bisa terganggu. Tapi ia
selalu bilang bahwa prestasinya takkan menurun karena hal itu. Tapi tetap saja,
Darma dilarang berjualan, apalagi jika membuatnya harus terlambat hadir
disekolah. Dasar anak yang keras kepala, ia bilang ke ibunya itu uang beasiswa.
Buah prestasi belajarnya disekolah. Anak sekecil itu membuat MoU dengan Pak Nasir,
membuatnya berani berkata semua keadaannya agar setidaknya keterlambatannya
dapat dimaklumi. Berjanji akan belajar sekuat tenaga dan mempertahankan posisi
prestasi akademiknya. Darma ingin menjadi seorang dokter dimasa depan, dokter
apapun, dokter spesialis kemanusiaan, persis seperti almarhum bapak yang selalu
membuat bangga. Bagaimana dengan anak yang lainnya?
Aisyah adalah putri
seorang PSK. Putra dari seorang bapak yang entah lari kemana. Dan seorang abang
yang merupakan bos besarnya preman pasar. Ia sadar benar pekerjaan apa yang
dilakukan ibu dan abangnya, sadar betul tentang kondisi keluarga. Tapi hebatnya,
ia menjadi cahaya, ibarat Aisyah adalah permata didalam keruhnya lumpur.
Walaupun lingkungan Aisyah seperti itu, Aisyah malah hadir sebagai sosok
inspirasi ditengah keluarga. Prestasi dikelas selalu diraihnya. Hebat dan
hebat. Selalu juara 3 besar dikelasnya. Cita-citanya juga ingin mengungguli Darma,
si teman karib. Ia ingin pula mencicipi menjadi nomor satu dikelas. Konsep
fastabiqul khairat yang sudah ia paham betul maknawinya. Aisyah juga sama,
menjajakan kue sebelum berangkat. Aisyah akan menjadi Menteri Pemberdayaan Perempuan
suatu saat nanti, menolong dan merangkul orang-oang seperti ibunya. Atau ia
akan menjadi seorang ustadzah, mungkin. Atau pikirnya, seorang menteri yang
mensyiarkan agama. Waaah, ide dan cita-cita yang jauh lebih baik.
Darma dan Aisyah
merupakan produk sukses binaan Pak Haji Shaleh beseta istrinya, mereka dibina
dalam ukhuwah dan cinta dalam rengkuhan islam. Setiap sore mereka akan
diajarkan mengaji, lebih dari itu, akan diberi materi ringan baik motivasi
maupun petuah kehidupan. Menempa para binaannya untuk terus bergerak maju
kedepan, melawan arus untuk menjadi manusia lebih baik karena islam. Begitupun
Putra, Jaja, Nanda, dan para anak lainnya. Pembinaan adalah hulunya. Sekolah
adalah tempat aplikasinya.
Haruskah lagi
kuceritakan tentang Dimas, Jaja, nanda atau Putra? Tidak usahlah. Dari mereka
semua dapat kuambil hikmah menjadi seorang pembelajar sejati. Entah siapa yang
belajar disini, aku atau mereka. Tidak! Mereka kuajarkan materi Kimia, Fisika, Matematika,
sedangkan mereka mengajarku untuk masuk lagi ke sebuah kampus baru. Kampus
kehidupan namanya. Bukan, bukan hanya Dimas, Jaja, Nanda, Putra, Aisyah, atau
Darma. Tapi semuanya, bahkan kata Pak Nasir, hampir semua muridku adalah sosok
luar biasa. Jalan berkilo-kilo meter untuk dapat belajar disekolah. Menantang
panas dan hujan. Mereka semua adalah sepotong episode kehidupan yang
mengajarkan arti kesabaran, perjuangan dan syukur. Beruntunglah aku, setidaknya
punya sepeda keren yang masih dapat ku kayuh (pikirku geli dalam hati, terharu)
Guru, aku ingat aku
adalah seorang guru. Punya sekian murid untuk dibantu menuntut ilmu. Mencetak
generasi terbaik sehingga muncul sosok-sosok baru seulung Pak Wasil, Pak Nasir
atau orang-orang seperti anda yang ikhlas bekerja untuk nusa bangsa dan agama.
Mereka adalah tunas kelapa yang siap menjulang menantang angin, mereka adalah
rumput liar yang mengarahkan orang pada mata air, mereka adalah beringin yang
mengakar karakter dan kepribadiannya sampai ke perut bumi. Belum, sepertinya
mereka belum sehebat itu. Hebat memang, tapi bagiku, mereka hanyalah sebuah
pensil tumpul. Harus terus diasah dan diraut. Mereka harus menjadi pensil yang
tajam. Siap meruncing untuk menulis setiap asa dan cita. Menjaring harapan dan
menjadi pemimpin masa depan. Aku seorang guru mungkin dapat menjadi rautan bagi
mereka. Pantas saja Pak Wasil dan Pak Nasir menyebut sekolah mereka sebagai
Sekolah Dasar Pensil Tumpul. Sekarang aku mengerti maksudnya. Dan aku sungguh
bangga menjadi bagian darinya.
CR : Bagus Wahyutomo
CR : Bagus Wahyutomo