Membawa Bintang Ke Tanah Suci
“Ya Allah terima kasih atas segala Ridho-mu. Akhirnya aku dapat membawa bintang-ku ke Tanah Suci-Mu. Hati terasa sangat tentram dan syukur terucap tiada henti, Hmmmmmmmm…. Do’a dan harapanku di Ijabah oleh-Mu. Doa’ku terkabul. Ya Robb, sungguh aku tidak percaya”
*******
“Ibu, mengapa rasa
nasi kita seperti ini?” Aku tak sengaja bertanya.
Beginilah kadang-kadang aku bertanya kepada
ibu.
Nasi
yang kami sekeluarga makan terasa sangat tidak enak dan membuat perutku mual.
Kadang-kadang aku ingin muntah tapi kutahan sekuatku. Sungguh aku tidak tega
melihat Ibu dan Bapak yang telah bekerja
keras melihatku pucat menahan pemberontakan perutku ini.
Perkenalkan,
namaku Bintang Muhammad, nama yang sangat indah dan kaya akan do’a –do’a dari
kedua orangtua. Sekarang aku tinggal disebuah rumah kontrakan kecil dengan ibu
dan bapakku. Aku bersyukur dapat tinggal disini. Biaya kontrakan rumah ini
sangat murah, walaupun kami tidak bisa membayarnya. Untungnya ada pamanku yang
rela menyisakan sedikit uangnya demi untuk biaya kontrakan rumah.
Sebenarnya
dulu kami punya rumah tapi harus dijual untuk biaya pengobatanku dulu. Pada
umur skitar 7 tahun, aku terserang penyakit Retinoblastoma
pada salah satu mata (unilateral). Penyakit ini adalah salah satu penyakit
mematikan yang menyerang bagian mata seperti kornea dan retina. Akibat penyakit
ini, mata kiriku terpaksa harus diangkat karena telah digerogoti sel kanker.
Ibu yang mengetahui hal ini sangat resah, bukan karena biaya, tapi karena rasa
keibuan, tidak tega melihat anak satu-satunya akan kehilangan sebuah bola
matanya. Ibu dan bapak seperti tidak percaya anak mereka harus mengalami
penyakit separah ini diusia yang masih sangat muda. Aku akan dioperasi.
“Apakah
anakku harus kehilangan bola matanya, dok? Apakah aku bisa menyumbangkan mata
ini untuknya?”. Tanya ibuku menangis.
*******
“Bu, aku tak mau makan!!!!
Teman-temanku selalu saja makan
enak, sedangkan aku hanya makan yang seperti ini. Terus ini dan ini-ini saja.
Tak pernah ganti”. Aku menggerutu.
Ayah datang
menghampiri karena mendengar aku marah-marah sama ibu.
“Ibu ini, Yah. Aku kesel. Aku juga
malu!!! Ditambah lagi kawan-kawanku slalu mengejek aku dengan sebutan “si anak
dari ibu buta”.
Parrrrrr!!!
Tamparan datang dari
tangan ibu yang mendarat tepat di pipiku. Tak selang beberapa detik, ibu pergi meninggalkanku
sambil menangis.
“Nak, taukah engkau bahwa tangis ibu-mu hanya mengalir dari
sebelah matanya… Yang ternyata sebelah mata yang lain mengalirkan air matanya
dari matamu, Nak”. Bapak berkata dengan lembut.
Mataku ini, ternyata adalah mata
ibuku…
*******
Setiap melihat cermin dan melihat
mata ini, aku teringat Ibu yang telah mendonorkan sebelah matanya untuk sang
anak tercinta…. Aku malu, sangat malu. Pengorbanan ibu belum dapat kubalas
bahkan saat usiaku menginjak umur 17 tahun.
Sebenarnya
tekadku sangat bulat untuk membahagiakan orangtua terutama Ibu, tapi semangat
ini kadang menjadi sangat kering kerontang, hilang tertiup angin hanya karena
dulu sering diejek “ Anak si Ibu buta”.
“Tidak!
Saat ini tidak lagi! Ejekan ini adalah motivasi hidup!”. Gumamku dalam hati.
Diumurku 17 tahun, aku masuk Perguruan Tinggi Negeri
Favorit. Aku masuk sebagai salah satu mahasiswa di Institut Pertanian Bogor,
karena Beasiswa.
*******
Kemiskinanan
dan segala ujian hidup telah menempaku menjadi manusia pantang menyerah, giat
belajar, giat bekerja. Ujian –ujian hidup inilah yang kemudian mendesakku
belajar sangat giat sejak kecil untuk merubah dan mengganti nasib. Hal ini
berbuah hasil dalam prestasi yang aku ukir dalam lembaran-lembaran hasil
evaluasi belajar. Prestasiku hampir sempurna di Universitas hingga aku mendapatkan kesempatan untuk
mewakili mahasiswa se-fakultas mengikuti
ajang perlombaan nasional “Karya Ilmiah Mahasiswa“.
“Juara
III……
“Juara
II…….
“Dan
yang kita tunggu-tunggu…..
Karya
Ilmiah terbaik! Selamat kepada Bintang Muhammad dari IPB telah menjadi Juara
Pertama Karya Ilmiah Mahasiswa tahun ini”. Suara MC memecah lamunanku, aku
bersorak gembira. Kemenanganku membuat aku berhak menerima Uang Pembinaan
sebesar 60 Juta Rupiah.
Ini
semua berkat Ibu, aku tau, setiap malam ibu selalu menyempatkan diri untuk
Qiyamul lail (Shalat Tahajjud) untuk mendoakanku. Aku juga tahu, Ibu selalu
memiliki satu harapan yang belum terkabul. Saat inilah atas Ridho Allah , aku
akan membahagiakan ibuku. Kami akan berkunjung kerumahmu, ya Robb.
*******
“Ibu…
Pak…”
Aku
berteriak memanggil ibu dan bapak yang sedang berbincang di rumah mungil kami.
“Ibu,
Pak… anakmu ini menang. Menang karena rasa ingin bakti ku kepada kalian.”
Ibu
dan bapak langsung memelukku.
Mereka
tau bahwa semua ini kulakukan demi mereka berdua.
*******
Tepat
tanggal 30 Nopember 2014 aku mendaftarkan Bapak, Ibu, beserta aku untuk Umroh..
Dan pada akhirnya kami berangkat kesana. Menikmati indahnya pertemuan dan
kedekatan mengunjungi rumah Allah.
Namaku
adalah Bintang…
Aku
berhasil memberangkatkan diriku ke tanah suci.
Harapanku
sejak dulu. Tapi yang terpenting dari semua ini adalah : aku tidak hanya
membawa 1 Bintang. Bukan hanya aku, tapi aku membawa Ibu.
Dialah
bintang-ku yang sesungguhnya.
Cr : Bagus Wahyutomo
Cr : Bagus Wahyutomo
Tidak ada komentar:
Posting Komentar