Kamis, 06 Juli 2017

Cerita Pendek I

Membawa Bintang Ke Tanah Suci


“Ya Allah terima kasih atas segala Ridho-mu. Akhirnya aku dapat membawa bintang-ku ke Tanah Suci-Mu. Hati terasa sangat tentram dan syukur terucap tiada henti, Hmmmmmmmm…. Do’a dan harapanku di Ijabah oleh-Mu. Doa’ku terkabul. Ya Robb, sungguh aku tidak percaya”
------
“Ibu, mengapa rasa nasi kita seperti ini?” Aku tak sengaja bertanya.
 Beginilah kadang-kadang aku bertanya kepada ibu.
Nasi yang kami sekeluarga makan terasa sangat tidak enak dan membuat perutku mual. Kadang-kadang aku ingin muntah tapi kutahan sekuatku. Sungguh aku tidak tega melihat Ibu dan Bapak  yang telah bekerja keras melihatku pucat menahan pemberontakan perutku ini.
Perkenalkan, namaku Bintang Muhammad, nama yang sangat indah dan kaya akan do’a –do’a dari kedua orangtua. Sekarang aku tinggal disebuah rumah kontrakan kecil dengan ibu dan bapakku. Aku bersyukur dapat tinggal disini. Biaya kontrakan rumah ini sangat murah, walaupun kami tidak bisa membayarnya. Untungnya ada pamanku yang rela menyisakan sedikit uangnya demi untuk biaya kontrakan rumah.
Sebenarnya dulu kami punya rumah tapi harus dijual untuk biaya pengobatanku dulu. Pada umur skitar 7 tahun, aku terserang penyakit Retinoblastoma pada salah satu mata (unilateral). Penyakit ini adalah salah satu penyakit mematikan yang menyerang bagian mata seperti kornea dan retina. Akibat penyakit ini, mata kiriku terpaksa harus diangkat karena telah digerogoti sel kanker. Ibu yang mengetahui hal ini sangat resah, bukan karena biaya, tapi karena rasa keibuan, tidak tega melihat anak satu-satunya akan kehilangan sebuah bola matanya. Ibu dan bapak seperti tidak percaya anak mereka harus mengalami penyakit separah ini diusia yang masih sangat muda. Aku akan dioperasi.
“Apakah anakku harus kehilangan bola matanya, dok? Apakah aku bisa menyumbangkan mata ini untuknya?”. Tanya ibuku menangis.
-------
“Bu, aku tak mau makan!!!!
Teman-temanku selalu saja makan enak, sedangkan aku hanya makan yang seperti ini. Terus ini dan ini-ini saja. Tak pernah ganti”. Aku menggerutu.
Ayah datang menghampiri karena mendengar aku marah-marah sama ibu.
“Ibu ini, Yah. Aku kesel. Aku juga malu!!! Ditambah lagi kawan-kawanku slalu mengejek aku dengan sebutan “si anak dari ibu buta”.
Parrrrrr!!!
Tamparan datang dari tangan ibu yang mendarat tepat di pipiku. Tak selang beberapa detik, ibu pergi meninggalkanku sambil menangis.
“Nak, taukah engkau  bahwa tangis ibu-mu hanya mengalir dari sebelah matanya… Yang ternyata sebelah mata yang lain mengalirkan air matanya dari matamu, Nak”. Bapak berkata dengan lembut.
Mataku ini, ternyata adalah mata ibuku…
-------
            Setiap melihat cermin dan melihat mata ini, aku teringat Ibu yang telah mendonorkan sebelah matanya untuk sang anak tercinta…. Aku malu, sangat malu. Pengorbanan ibu belum dapat kubalas bahkan saat usiaku menginjak umur 17 tahun.
Sebenarnya tekadku sangat bulat untuk membahagiakan orangtua terutama Ibu, tapi semangat ini kadang menjadi sangat kering kerontang, hilang tertiup angin hanya karena dulu sering diejek “ Anak si Ibu buta”.
“Tidak! Saat ini tidak lagi! Ejekan ini adalah motivasi hidup!”. Gumamku dalam hati.
 Diumurku 17 tahun, aku masuk Perguruan Tinggi Negeri Favorit. Aku masuk sebagai salah satu mahasiswa di Institut Pertanian Bogor, karena Beasiswa.
-------
Kemiskinanan dan segala ujian hidup telah menempaku menjadi manusia pantang menyerah, giat belajar, giat bekerja. Ujian –ujian hidup inilah yang kemudian mendesakku belajar sangat giat sejak kecil untuk merubah dan mengganti nasib. Hal ini berbuah hasil dalam prestasi yang aku ukir dalam lembaran-lembaran hasil evaluasi belajar. Prestasiku hampir sempurna di Universitas  hingga aku mendapatkan kesempatan untuk mewakili mahasiswa  se-fakultas mengikuti ajang perlombaan nasional “Karya Ilmiah Mahasiswa“.
“Juara III……
“Juara II…….
“Dan yang kita tunggu-tunggu…..
Karya Ilmiah terbaik! Selamat kepada Bintang Muhammad dari IPB telah menjadi Juara Pertama Karya Ilmiah Mahasiswa tahun ini”. Suara MC memecah lamunanku, aku bersorak gembira. Kemenanganku membuat aku berhak menerima Uang Pembinaan sebesar  60 Juta Rupiah.
Ini semua berkat Ibu, aku tau, setiap malam ibu selalu menyempatkan diri untuk Qiyamul lail (Shalat Tahajjud) untuk mendoakanku. Aku juga tahu, Ibu selalu memiliki satu harapan yang belum terkabul. Saat inilah atas Ridho Allah , aku akan membahagiakan ibuku. Kami akan berkunjung kerumahmu,  ya Robb.
-------
“Ibu…
Pak…”
Aku berteriak memanggil ibu dan bapak yang sedang berbincang di rumah mungil kami.
“Ibu, Pak… anakmu ini menang. Menang karena rasa ingin bakti ku kepada kalian.”
Ibu dan bapak langsung memelukku.
Mereka tau bahwa semua ini kulakukan demi mereka berdua.
-------
Tepat tanggal 30 Nopember 2014 aku mendaftarkan Bapak, Ibu, beserta aku untuk Umroh.. Dan pada akhirnya kami berangkat kesana. Menikmati indahnya pertemuan dan kedekatan mengunjungi rumah Allah.
Namaku adalah Bintang…
Aku berhasil memberangkatkan diriku ke tanah suci.
Harapanku sejak dulu. Tapi yang terpenting dari semua ini adalah : aku tidak hanya membawa 1 Bintang. Bukan hanya aku, tapi aku membawa Ibu.
Dialah bintang-ku yang sesungguhnya.

Cr: Bagus Wahyutomo

Tidak ada komentar:

Posting Komentar