Kamis, 06 Juli 2017

Cerita Pendek II

Sekolah Pensil Tumpul

Ku kayuh kencang sepeda tua ku hari ini. Satu dua tiga ratusan kayuhan. Pagi-pagi buta saat matahari belum lagi tersenyum diatas langit, semangat ku sudah membakar menyinar secerah mentari pagi. Setiap kayuhan sepeda ini seperti energi baru, nafas baru, dan cerita baru, bahwa aku akan memulai hari dan hidup baru, ditempat yang baru. Sepanjang perjalanan dalam detak kayuhan, aku mengingat memori lama, entah apa yang membuat ku tiba-tiba berpikir hidupku dimasa yang lalu. Jelas teringat lima bulan lalu, saat aku baru saja selesai menyelesaikan amanah kuliah dikampus, saat para wisudawan terbaik itu dipanggil satu persatu. Maju angkuh dengan toganya berjalan tegak meanantang seolah berkata hari ini kami adalah raja dan ratu. Ya, hari wisuda memang sangat mempesona. Tak ada satupun dari kami yang tampak berkeluh susah, atau bersedih, atau sikap apapun yang menunjukkan ketidaksenangan pada hari momental tersebut, yang ada hanyalah senyum, gembira, tawa, dan bangga. Perjuangan kuliah empat tahun dikampus ini terbayar sudah, lewat acara wisuda yang mengharu. Salah satu dari acara berdurasi dua jam yang paling membahagiakan. Aku lulus dengan predikat sangat memuaskan.
Ciiiiiiit, sontak ku rem sepeda mendadak. Suaranya yang melengking memecah lamunan nostalgia. Kaget! rasanya jantung ini hampir copot. “Elaaah, bocah, kalau jalan jangan ditengah. Kan jalan lebar to. Kalau tadi nabrak gimana?” Aku bertanya dengan nada tinggi, ya kurang pantas memang, mengingat dihadapanku hanya seorang bocah cilik. Bocah cilik botak berseragam lusuh. setengah berteriak bocah itu menjawab: Gelo sia! Ada anak kecil didepan malah maju terus. Kebanyakan melamun sih! Dasar aneh!. Bagiku itu kalimat yang sangat amat kasar, apalagi dikatakan oleh anak seusianya. Aku tertegun sejenak, memandanginya yang seolah menantangku dengan tatapan tajam dan marah . dalam hati aku menerka, apakah orangtuanya tak pernah mengajarinya sopan santun dan tatakrama. Entah lah, aku tak mau berprasangka. Tak mau kurusak hari ini dengan memikirkan bocah kecil aneh yang tak punya sopan santun. Ku kayuh lagi sepedanya, tak kuhiraukan dia…
Alhamdulillah, akhirnya sampai juga diistana baruku.. Perjalanan panjang tiga kilometer ini sungguh sangat menyenangkan, ya walaupun insiden kecil tadi telah menyita sedikit mood baikku. “Naah, kita mulai dari sini ya Nak, kamu akan mulai mengajar dikelas 3 dan 4… Ini kelasnya (sambil menunuk kearah dua kelas yang berdempetan) Semoga kamu betah ya, modal utama guru adalah kesabaran dan keikhlasan. Setiap ilmu yang engkau berikan nantinya semoga jadi ladang amal Nak, jadi bersemangatlah ya!” Petuah singkat Pak Wasil, Kepala Sekolah SD ini cukup rasanya menjadi sebuah kultum pagi yang menghidupkan lagi ghirah jiwa anak muda. “Siap Pak! Mohon bantuannya”. Jawabku singkat. Pak Wasil, sosok sederhana yang menginspirasi. Pertama kali bertemu beliau telah membuatku merasa sangat nyaman. Cara beliau memberi nasihat tak menggurui, memberi semangat seolah yang lain adalah anak atau saudaranya sendiri, itulah Pak Wasil. Senyumnya sangat ramah. Setiap kerutan diwajahnya adalah guratan kerja keras ikhlas. Selama delapan belas tahun mengabdikan diri, bisa dibayangkan rasa cintanya terhadap pekerjaan dan semangatnya membangun pendidikan. Sungguh sosok pengajar sejati.
Teng, teng, teng! Lonceng berbunyi, anak-anak berlarian masuk ke kelas. Tepat berada didepan para murid. Aku gemetar. Gerogi? Aku menantang diriku untuk tidak merasakannya. Aku seorang lulusan terbaik di universitas pendidikan terbaik di Indonesia.  Pengalaman sudah cukup mumpuni. Mengajar merupakan makanan ku sehari-hari. Kenapa aku harus gerogi? Aku berpikir mungkin karena ini adalah hari pertama ku menyandang predikat asli guru. Walaupun hanya menjadi seorang guru honorer tapi sungguh ini merupakan kesempatan emas untuk mengaplikasikan ilmu yang selama ini telah kudapat. Bismillah, aku memulainya dengan perkenalan diri…
“Assalamualaikum anak-anak. Nama Bapak, atau bisa juga dipanggil kakak adalah Kak Bagus. Bapak adalah guru baru kalian disini. Salam kenal ya. Mudah-mudahan bapak bisa mengajar dengan sebaik mungkin. Insyaallah kalau ada yang mau ditanyakan nanti setelah jam pelajaran usai. Bapak juga ingin mengenal kalian satu persatu” Kataku bersemangat. Keadaaan kelas ini cukup sempit untuk menampung sekitar 40-an murid kelas 4 SD. Rasa-ranya setiap dari kami harus berebut oksigen untuk dapat bernapas dengan baik. Ya sedikit lebay memang, tapi aku yang belum terbiasa mungkin harus dimaklumi. Kelas yang sempit membuat anak-anak harus ikhlas dan pasrah berbagi kursi dan meja. Sikut-sikut mereka saling bersentuhan setiap kali akan menulis pelajaran. Miris memang, saat sekolah-sekolah dikota besar berlomba dibangun bermegah-megah dengan segala fasilitas mewah, sekolah-sekolah desa hanya bisa menunggu antrian untuk dibangun, itupun kalau pemerintah daerahnya peka dan peduli. Contoh nyata seperti sekolah ini, SD Miyangan Sore. SD dengan 6 kelas. Masing-masing kelas sempit menampung sekitar 40-an siswa sedangkan ukuran kelas sungguh bukan ukuran yang sesuai untuk menampung murid sebanyak itu.
Dua jam pelajaran berlalu, seorang anak nyelenong masuk kedalam kelas. “Apa-apaan anak ini? Telat dua jam pelajaran tapi nyelenong aja masuk kekelas, tanpa permisi, tanpa konfirmasi, langsung duduk seolah tak ada hukum disekolah ini, seolah tak terjadi kesalahan apapun”. Debatku dalam hati. Belum sempat aku menelaah kelakuan murid itu, ternyata ada lima murid lainnya masuk kekelas tanpa izin, lagi-lagi seperti sekolah ini adalah milik mereka. Jujur aku marah, aku panggil semuanya untuk mengkonfirmasi apa yang terjadi. “Yang terlambat, yang baru saja masuk ke dalam kelas, silahkan kedepan, Bapak ingin tau alasan keterlambatan kalian. Mereka maju seketika. Luar biasanya, diantara mereka terdapat anak yang tadi pagi berkata kasar terhadapku. Aku semakin marah. Bapak, maaf kami terlambat, kami kira bapak adalah Pak Nasir. Guru yang biasa mengajar kelas ini. Jadi seperti ini Pak, kami sudah izin terlambat setiap hari Pak! Pak Nasir sudah memberikan izin ke kami untuk datang terlambat setiap hari kecuali dihari Jum’at”. Jawab seorang dari mereka, polos. Aku terheran dan bertanya-tanya, apa alasannya seorang guru mempersilahkan muridnya datang terlambat dan diberi kan izin untuk telat setiap hari, sekolah aneh macam apa ini.
Jam kelas berakhir, mengakhiri pertemuan hari pertama ini dengan beribu pertanyaan karena penasaran. Selayaknya aku telah mendapat penjelasan dari enam anak tadi, tapi tidak cukup rasanya jawaban mereka. Aku bergegas keruang guru, mencari bayang-bayang sosok kurus Pak Nasir. Diskusi siang ini sungguh aneh tapi nyata. Alasan syar’i yang membuat ku mungkin akan berbuat hal yang sama, mengizinkan mereka berenam untuk hadir telat setiap hari. Pak Nasir mengajakku untuk belajar sepotong kehidupan manusia. Belajar dari para murid kelas ku, bahkan dari hampir semua murid di SD ini. Sample awal hari ini, beliau menyuruhku belajar dari lima siswa yang terlambat itu, Dimas, Putra, Jaja, Nanda, Aisyah, dan satu anak lain yang membuat ku tertarik untuk berobservasi, namanya Darma, bocah cilik yang menjengkelkan.
“Naaah, bapak Cuma bisa nganter sampai sini, Dek Bagus silahkan berilaturahim ya. Semoga dapat banyak petuah hidup. Assalamualaikum”. Pak Nasir pergi dengan motor bututnya. Menghilang diantara gang-gang sempit disela-sela rumah kecil warga desa. Alhamdulillah dapat tumpangan dari Pak Nasir untuk sekalian menuntun jalanku menuju rumah salah seorang murid ku, Darma..
“Assalamualaikum Pak Bu. Assalamualaikum”. Salam ramah menyahut dari dalam rumah yang sangat sederhana itu. “Waalaikumusslam (sambil membuka pintu), ya Mas, punteun dengan siapa ya?” Seorang sosok wanita tua keluar dari dalam rumah. Sambil tersenyum kata-kata tersusun dari mulutku. “Punteun juga ibu, nama saya Bagus. Guru baru Darma disekolah, niatannya ingin bersilaturahim bu”. Dengan sangat lembut, sosok wanita itu menjawab, “ oh iya Pak Guru, boleh silahkan., saya Ibunya Darma. Silahkan masuk. tapi ya seperti ini, keadaan rumahnya jelek, silahkan pak duduk disini (mempersilahkan duduk disalah satu kursi yang tampak paling baik kondisinya disbanding yang lain). Saya ambil minum dulu ya dibelakang (berlalu menuju arah dapur)”. Jelas aku dapat meilhat seiisi rumah. Ukurannya tidak besar, bahkan terbilang sempit. Kira-kira berukuran 3x6 meter persegi tanpa ada pembatas yang jelas antar ruang, kalaupun ada hanya lah kain yang diikat diantara tembok sebagai hijab pembatas. Di dinding-dinding apa yang engkau harapkan, sebuah kaligrafi, atau lukisan? Tidak! Tidak ada sama sekali. Yang ada hanyalah kertas-kertas coretan nilai ulangan. Aku memandanginya sejenak.
Sejenak sosok Ibu Dharma telah berada dihadapanku. Ia datang sambil menyuguhkan secangkir air putih diatas meja. Mengawali pembicaraan, ia seperti tau tadi aku memandangi kertas-kertas didinding itu. Kemudian ia berkata, “itu adalah nilai-nilai ulangan Darma. Setiap kali nilainya berada dibawah 90, ia akan menempelkannya dan mencoret nilainya menjadi 100. Setiap kertas akan diberinya tulisan, kalau mau sukses nilai harus 100. Belajar keras lagi buat Ibu! Ya begitulah pak, anak saya. Dia memang sedikit aneh (sambil tertawa kecil)”. Aku menyimak setiap kata yang keluar darinya. Kupandangi lagi kertas-kertas itu, kudapati bahwa tak ada satupun ulangannya bernilai dibawah 90. Wah, sungguh anak yang pintar. Aku pun melanjutkan pembicaraan, “oh iya Bu, luar biasa. Anak yang pintar. Darma gimana belajarnya Bu?” Bersemangat ia menjawab, “Darma memang anak yang pintar. Dia keturunan almarhum bapaknya. Bapaknya seorang dokter dulu, mengabdikan diri untuk kampung ini. Tapi takdir terkadang memang kejam, disaat ia harus bersusah menolong warga desa, ia sendiri jarang beristirahat hingga terkena penyakit kanker. Harta ludes untuk biaya pengobatan. Tapi hamdallah warga sini melihat ikhlasnya bapak dulu bekerja, saya dibantu dengan sepetak rumah ini. Naah, pintarnya mah tidak mungkin dari saya. Kalau saya mah hanya lulusan SMP (sambil tertawa kecil). Tapi bapaknya kelepek-kelepek sama saya karena saya penghafal Al-Qur’an 30 Juz. Alhamdulillah (tersenyum). Setiap sore Darma belajar dengan giat disurau sana. Selain itu dia juga giat menghafal Al-Qur-an. Dia bilang, mau buatkan mahkota buat saya dan bapaknya nanti saat di akhirat. Polos banget ya?. Masih seusia itu tapi sudah prihatin sama kondisi orang tua. Alhamdulillah gusti. Saya bangga sama dia, bintang kecil hatiku”.
Puas bercerita, rasanya ingin sekali aku bertemu dengan Darma. Ibu Darma kemudian menunjukkan ku surau tempat biasa ia belajar. Dari balik jendela tak bertirai aku melihat ia sedang murajaah surah an-Nissa. Bacaannya bagus, hafalannya lancar. Tidak menyangka anak bandel yang tadi pagi kusaksikan seolah berubah jadi malaikat kecil tak berdosa. Aku masuk kedalam surau, dia tak memperdulikan. Acuh. “Assalamualaikum Darma, ini Pak Bagus”. Sontak ia merapikan sarung kucelnya yang dipakainya tak beraturan. Kemudian menegakkan duduknya sambil berkata, “iya Pak. Punteun. Saya mau minta maaf tentang tadi pagi. Saya kira bapak bukan guru disekolah. Kalau saya tau pastilah saya tidak berbuat hal seperti itu (ngeles)”. “Iya tidak apa kok. Kamu apa kabarnya? Naaah lain kali harus lebih sopan ya. Supaya bapak gak marah lagi. (sambil tertawa kecil). Kok belajarnya disini?” Darma menjawab pelan, “iya Pak. Biar tenang dan gak ganggu Ibu. Soalnya kalau belajar suka ngomong-ngomong sendiri. Sekalian juga Pak, hari ini murabbi Darma, Ustads Shaleh, akan datang buat ngajar. Nanti anak-anak yang lain juga bakalan pada datang. Kalau bapak mau lihat, paling satu jam lagi udah pada ngumpul”. Ajaknya bersemangat
Subhanallah, satu hal baru yang aku pelajari. Sungguh malu rasanya ketika akupun harus mengambil hikmah dari seorang bacah yang tadi pagi kugerutui. Seorang Darma, anak kelas 4 SD yang sudah hafal 17 Juz. Yang sebelum bersekolah menyempatkan ke rumah Bu Haji Shaleh untuk mengambil kue dan menjajakannya sepanjang perjalanan menuju kelas. Banyak sekali bawaannya. Ia tau kondisi ibunya yang mulai renta, bahkan belakangan ia tau Ibunya juga terserang penyakit yang ia tak tau apa, tapi yang pasti membuat Ibunya sering pusing dan harus sering pula minum obat. Serorang anak yang berpikir tak ada jaminan baginya untuk membahagiakan ibunya dimasa tua, ia takut sekali saat nanti, malaikat telah mencabut nyawa ibunya, percis seperti sosok bapaknya, yang ia sama sekali tak sempat melukis senyum di wajah bapaknya yang menua. Diam-diam ia berjualan kue sebelum sekolah. Terkadang ia sekaligus mengumpulkan botol-botol bekas untuk dijual ke agen loak. Keuntungan seribu dua ribu selalu ia tabung untuk membantu membeli obat sang ibu. Sang ibu khawatir jika Darma terus-terusan berjualan, sekolahnya bisa terganggu. Tapi ia selalu bilang bahwa prestasinya takkan menurun karena hal itu. Tapi tetap saja, Darma dilarang berjualan, apalagi jika membuatnya harus terlambat hadir disekolah. Dasar anak yang keras kepala, ia bilang ke ibunya itu uang beasiswa. Buah prestasi belajarnya disekolah. Anak sekecil itu membuat MoU dengan Pak Nasir, membuatnya berani berkata semua keadaannya agar setidaknya keterlambatannya dapat dimaklumi. Berjanji akan belajar sekuat tenaga dan mempertahankan posisi prestasi akademiknya. Darma ingin menjadi seorang dokter dimasa depan, dokter apapun, dokter spesialis kemanusiaan, persis seperti almarhum bapak yang selalu membuat bangga. Bagaimana dengan anak yang lainnya?
Aisyah adalah putri seorang PSK. Putra dari seorang bapak yang entah lari kemana. Dan seorang abang yang merupakan bos besarnya preman pasar. Ia sadar benar pekerjaan apa yang dilakukan ibu dan abangnya, sadar betul tentang kondisi keluarga. Tapi hebatnya, ia menjadi cahaya, ibarat Aisyah adalah permata didalam keruhnya lumpur. Walaupun lingkungan Aisyah seperti itu, Aisyah malah hadir sebagai sosok inspirasi ditengah keluarga. Prestasi dikelas selalu diraihnya. Hebat dan hebat. Selalu juara 3 besar dikelasnya. Cita-citanya juga ingin mengungguli Darma, si teman karib. Ia ingin pula mencicipi menjadi nomor satu dikelas. Konsep fastabiqul khairat yang sudah ia paham betul maknawinya. Aisyah juga sama, menjajakan kue sebelum berangkat. Aisyah akan menjadi Menteri Pemberdayaan Perempuan suatu saat nanti, menolong dan merangkul orang-oang seperti ibunya. Atau ia akan menjadi seorang ustadzah, mungkin. Atau pikirnya, seorang menteri yang mensyiarkan agama. Waaah, ide dan cita-cita yang jauh lebih baik.
Darma dan Aisyah merupakan produk sukses binaan Pak Haji Shaleh beseta istrinya, mereka dibina dalam ukhuwah dan cinta dalam rengkuhan islam. Setiap sore mereka akan diajarkan mengaji, lebih dari itu, akan diberi materi ringan baik motivasi maupun petuah kehidupan. Menempa para binaannya untuk terus bergerak maju kedepan, melawan arus untuk menjadi manusia lebih baik karena islam. Begitupun Putra, Jaja, Nanda, dan para anak lainnya. Pembinaan adalah hulunya. Sekolah adalah tempat aplikasinya.
Haruskah lagi kuceritakan tentang Dimas, Jaja, nanda atau Putra? Tidak usahlah. Dari mereka semua dapat kuambil hikmah menjadi seorang pembelajar sejati. Entah siapa yang belajar disini, aku atau mereka. Tidak! Mereka kuajarkan materi Kimia, Fisika, Matematika, sedangkan mereka mengajarku untuk masuk lagi ke sebuah kampus baru. Kampus kehidupan namanya. Bukan, bukan hanya Dimas, Jaja, Nanda, Putra, Aisyah, atau Darma. Tapi semuanya, bahkan kata Pak Nasir, hampir semua muridku adalah sosok luar biasa. Jalan berkilo-kilo meter untuk dapat belajar disekolah. Menantang panas dan hujan. Mereka semua adalah sepotong episode kehidupan yang mengajarkan arti kesabaran, perjuangan dan syukur. Beruntunglah aku, setidaknya punya sepeda keren yang masih dapat ku kayuh (pikirku geli dalam hati, terharu)
Guru, aku ingat aku adalah seorang guru. Punya sekian murid untuk dibantu menuntut ilmu. Mencetak generasi terbaik sehingga muncul sosok-sosok baru seulung Pak Wasil, Pak Nasir atau orang-orang seperti anda yang ikhlas bekerja untuk nusa bangsa dan agama. Mereka adalah tunas kelapa yang siap menjulang menantang angin, mereka adalah rumput liar yang mengarahkan orang pada mata air, mereka adalah beringin yang mengakar karakter dan kepribadiannya sampai ke perut bumi. Belum, sepertinya mereka belum sehebat itu. Hebat memang, tapi bagiku, mereka hanyalah sebuah pensil tumpul. Harus terus diasah dan diraut. Mereka harus menjadi pensil yang tajam. Siap meruncing untuk menulis setiap asa dan cita. Menjaring harapan dan menjadi pemimpin masa depan. Aku seorang guru mungkin dapat menjadi rautan bagi mereka. Pantas saja Pak Wasil dan Pak Nasir menyebut sekolah mereka sebagai Sekolah Dasar Pensil Tumpul. Sekarang aku mengerti maksudnya. Dan aku sungguh bangga menjadi bagian darinya.

CR : Bagus Wahyutomo

Cerita Pendek I

Membawa Bintang Ke Tanah Suci


“Ya Allah terima kasih atas segala Ridho-mu. Akhirnya aku dapat membawa bintang-ku ke Tanah Suci-Mu. Hati terasa sangat tentram dan syukur terucap tiada henti, Hmmmmmmmm…. Do’a dan harapanku di Ijabah oleh-Mu. Doa’ku terkabul. Ya Robb, sungguh aku tidak percaya”
------
“Ibu, mengapa rasa nasi kita seperti ini?” Aku tak sengaja bertanya.
 Beginilah kadang-kadang aku bertanya kepada ibu.
Nasi yang kami sekeluarga makan terasa sangat tidak enak dan membuat perutku mual. Kadang-kadang aku ingin muntah tapi kutahan sekuatku. Sungguh aku tidak tega melihat Ibu dan Bapak  yang telah bekerja keras melihatku pucat menahan pemberontakan perutku ini.
Perkenalkan, namaku Bintang Muhammad, nama yang sangat indah dan kaya akan do’a –do’a dari kedua orangtua. Sekarang aku tinggal disebuah rumah kontrakan kecil dengan ibu dan bapakku. Aku bersyukur dapat tinggal disini. Biaya kontrakan rumah ini sangat murah, walaupun kami tidak bisa membayarnya. Untungnya ada pamanku yang rela menyisakan sedikit uangnya demi untuk biaya kontrakan rumah.
Sebenarnya dulu kami punya rumah tapi harus dijual untuk biaya pengobatanku dulu. Pada umur skitar 7 tahun, aku terserang penyakit Retinoblastoma pada salah satu mata (unilateral). Penyakit ini adalah salah satu penyakit mematikan yang menyerang bagian mata seperti kornea dan retina. Akibat penyakit ini, mata kiriku terpaksa harus diangkat karena telah digerogoti sel kanker. Ibu yang mengetahui hal ini sangat resah, bukan karena biaya, tapi karena rasa keibuan, tidak tega melihat anak satu-satunya akan kehilangan sebuah bola matanya. Ibu dan bapak seperti tidak percaya anak mereka harus mengalami penyakit separah ini diusia yang masih sangat muda. Aku akan dioperasi.
“Apakah anakku harus kehilangan bola matanya, dok? Apakah aku bisa menyumbangkan mata ini untuknya?”. Tanya ibuku menangis.
-------
“Bu, aku tak mau makan!!!!
Teman-temanku selalu saja makan enak, sedangkan aku hanya makan yang seperti ini. Terus ini dan ini-ini saja. Tak pernah ganti”. Aku menggerutu.
Ayah datang menghampiri karena mendengar aku marah-marah sama ibu.
“Ibu ini, Yah. Aku kesel. Aku juga malu!!! Ditambah lagi kawan-kawanku slalu mengejek aku dengan sebutan “si anak dari ibu buta”.
Parrrrrr!!!
Tamparan datang dari tangan ibu yang mendarat tepat di pipiku. Tak selang beberapa detik, ibu pergi meninggalkanku sambil menangis.
“Nak, taukah engkau  bahwa tangis ibu-mu hanya mengalir dari sebelah matanya… Yang ternyata sebelah mata yang lain mengalirkan air matanya dari matamu, Nak”. Bapak berkata dengan lembut.
Mataku ini, ternyata adalah mata ibuku…
-------
            Setiap melihat cermin dan melihat mata ini, aku teringat Ibu yang telah mendonorkan sebelah matanya untuk sang anak tercinta…. Aku malu, sangat malu. Pengorbanan ibu belum dapat kubalas bahkan saat usiaku menginjak umur 17 tahun.
Sebenarnya tekadku sangat bulat untuk membahagiakan orangtua terutama Ibu, tapi semangat ini kadang menjadi sangat kering kerontang, hilang tertiup angin hanya karena dulu sering diejek “ Anak si Ibu buta”.
“Tidak! Saat ini tidak lagi! Ejekan ini adalah motivasi hidup!”. Gumamku dalam hati.
 Diumurku 17 tahun, aku masuk Perguruan Tinggi Negeri Favorit. Aku masuk sebagai salah satu mahasiswa di Institut Pertanian Bogor, karena Beasiswa.
-------
Kemiskinanan dan segala ujian hidup telah menempaku menjadi manusia pantang menyerah, giat belajar, giat bekerja. Ujian –ujian hidup inilah yang kemudian mendesakku belajar sangat giat sejak kecil untuk merubah dan mengganti nasib. Hal ini berbuah hasil dalam prestasi yang aku ukir dalam lembaran-lembaran hasil evaluasi belajar. Prestasiku hampir sempurna di Universitas  hingga aku mendapatkan kesempatan untuk mewakili mahasiswa  se-fakultas mengikuti ajang perlombaan nasional “Karya Ilmiah Mahasiswa“.
“Juara III……
“Juara II…….
“Dan yang kita tunggu-tunggu…..
Karya Ilmiah terbaik! Selamat kepada Bintang Muhammad dari IPB telah menjadi Juara Pertama Karya Ilmiah Mahasiswa tahun ini”. Suara MC memecah lamunanku, aku bersorak gembira. Kemenanganku membuat aku berhak menerima Uang Pembinaan sebesar  60 Juta Rupiah.
Ini semua berkat Ibu, aku tau, setiap malam ibu selalu menyempatkan diri untuk Qiyamul lail (Shalat Tahajjud) untuk mendoakanku. Aku juga tahu, Ibu selalu memiliki satu harapan yang belum terkabul. Saat inilah atas Ridho Allah , aku akan membahagiakan ibuku. Kami akan berkunjung kerumahmu,  ya Robb.
-------
“Ibu…
Pak…”
Aku berteriak memanggil ibu dan bapak yang sedang berbincang di rumah mungil kami.
“Ibu, Pak… anakmu ini menang. Menang karena rasa ingin bakti ku kepada kalian.”
Ibu dan bapak langsung memelukku.
Mereka tau bahwa semua ini kulakukan demi mereka berdua.
-------
Tepat tanggal 30 Nopember 2014 aku mendaftarkan Bapak, Ibu, beserta aku untuk Umroh.. Dan pada akhirnya kami berangkat kesana. Menikmati indahnya pertemuan dan kedekatan mengunjungi rumah Allah.
Namaku adalah Bintang…
Aku berhasil memberangkatkan diriku ke tanah suci.
Harapanku sejak dulu. Tapi yang terpenting dari semua ini adalah : aku tidak hanya membawa 1 Bintang. Bukan hanya aku, tapi aku membawa Ibu.
Dialah bintang-ku yang sesungguhnya.

Cr: Bagus Wahyutomo

Kenapa harus menulis?

        Bagi seorang penulis (red: calon), menulis merupakan salah satu hal yang, ya, maybe menyenangkan.  Aksi, kreativitas, curhatan, silatan lidah, atau apapun itu penyebutannya bagi kalangan awam, atau akademisi ilmiah, menulis ibarat goresan pikiran yang dituangkan melalui tulisan yang menari-nari dalam halaman web, kertas, diary, atau media lain misal di Blog ini. Tulisan itu emang mahal Bro... cukup sulit juga, tapi sebenarnya mudah banget untuk dibuat dan dimuat. Asalkan kita mau mengetik, berpikir sejenak, mengumpulkan energi untuk menyusun mozaik kata-kata itu kedalam kertas, atau web, ya dimanapun media yang kamu suka...
        Menulis membuatmu dapat menyalurkan isi kepala, mengekspresikan keadaan hati, mengeksplorasi diri, membagi pengalaman, membuat inovasi, meneriakkan inovasi dan ide, dan berbagai hal seru lain yang pastinya cukup dilakukan dengan menyusun kata-kata menjadi puzzle lengkap.
        Tak perlu banyak waktu untuk menulis. Satu menit, tiga menit, dua jam, atau berapapun waktu yang diperlukan, sebenarnya waktu untuk menulis itu sangat lah singkat, sepanjang dan selama apapun itu. Pada hakikatnya, menulis hanyalah komunikasi pribadi untuk menuangkan apa yang engkau pikirkan. Begitu pula yang aku lakukan hari ini, detik ini. Cukup bagi kita mengetik tanpa banyak berpikir, sederhanakn saja bahasanya, originalkan penyampaian makna dalam kalimatnya, bagiku itu sudah cukup untuk membagi cerita hari ini kepada dunia...
        Hari ini, Blog baru tercipta dan Blog yang lama telah sirna. Ya, permasalahannya sederhana, lupa passwordnya. Sebuah alasan klasik. Jika dihitung dengan akun Blog ini, mungkin sudah ada total 5 akun yang telah dibuat, dan 5 kali itu pula saya melupakan passwordnya. Dalam beberapa akun Blog itu, sudah ada beberapa tulisan keren (ya minimal menurutku), telah dipublish di wallnya. Walalupun tak sering dan gak terlalu aktif nge-Blog, rasanya tulisan itu cukup berharga untuk dibaca-baca kembali... Mengingatkan tentang menulis (ternyata) sudah menjadi bagian dalam hidup beberapa tahun belakangan ini.
        Yailah, sedikit teguran mungkin. Membuat blog baru, menulis dengan ide-ide yang lebih segar, lebih kreatif, lebih semangat, lebih beragam, dan lebih sering. Menulis dalam Blog adalah hal yang sederhana dan mudah. Yang sulit hanya melawan mager untuk menulis ide yang ada dikepala. Padahal, jika PC dan akun blognya sudah dibuka, menulis akan sangat menyenangkan untuk dilakukan. Apalagi sudah ada Smartphone, menulis bisa kapan dan dimana saja.